machan – Arus investasi dan rencana pengembangan kawasan industri di Pulau Madura dinilai sebagai pintu masuk bagi transformasi ekonomi daerah. Di antara sejumlah wilayah, Kabupaten Bangkalan disebut memiliki daya ungkit terbesar karena posisinya yang langsung terhubung dengan Surabaya melalui Jembatan Suramadu.
Koordinator Aliansi BEM Bangkalan Bersatu, Moh. Fauzi, S.M., ABM, menilai keunggulan geografis tersebut harus dimanfaatkan secara optimal agar Bangkalan tidak sekadar menjadi gerbang, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan yang mampu menggerakkan kabupaten-kabupaten lain di Madura.
“Kami mendukung penuh masuknya industrialisasi. Ini bukan sekadar soal pabrik, tetapi tentang bagaimana kita membangun sistem ekonomi yang melibatkan masyarakat lokal,” ujar Fauzi kepada awak media, Senin (18/8/26).
Menurutnya, kehadiran industri di Bangkalan harus diikuti dengan persiapan matang di berbagai sektor penunjang. Ia menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur logistik, hingga ketersediaan lahan dan tata ruang yang terencana.
Fauzi mengingatkan agar masyarakat Madura tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri. Ia menyebutkan, saat ini masih ada kekhawatiran bahwa tenaga kerja yang terserap di sektor industri justru didominasi oleh pekerja dari luar daerah, jika pemerintah dan institusi pendidikan tidak bergerak cepat melakukan peningkatan kompetensi.
“Kita harus antisipasi sejak sekarang. Pemerintah, SMK, perguruan tinggi, dan pelaku industri harus duduk bersama menyusun kurikulum dan pelatihan yang sesuai kebutuhan pasar,” tegasnya.
Lebih jauh, aktivis pemuda itu juga menekankan pentingnya keterkaitan antara industri dengan ekosistem ekonomi lokal. Menurutnya, kawasan industri tidak boleh berjalan sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan UMKM, sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Madura.
Fauzi mencontohkan, industri manufaktur dapat membuka peluang kemitraan dengan pelaku usaha kecil sebagai pemasok bahan baku atau penyedia jasa pendukung. Dengan pola tersebut, aliran ekonomi tidak hanya berhenti di kawasan pabrik, tetapi menyebar hingga ke desa-desa.
Selain aspek ekonomi, ia juga mengingatkan pentingnya komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Setiap proyek industri, kata Fauzi, harus mengantongi kajian dampak lingkungan yang ketat, serta memperhatikan pengelolaan limbah dan ketersediaan air agar tidak merugikan masyarakat sekitar.
“Investasi yang baik adalah investasi yang tidak hanya mengejar laba, tetapi juga menjaga kelestarian dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga,” ungkapnya.
Fauzi berharap, jika Bangkalan mampu mengelola momentum industrialisasi ini dengan baik, maka efek positifnya tidak hanya dirasakan di kabupaten tersebut, tetapi juga meluas ke Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Ia menilai kolaborasi antarpemerintah daerah di Madura sangat diperlukan agar pembangunan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Madura tidak boleh hanya menjadi tempat berdirinya pabrik. Masyarakatnya harus menjadi pelaku utama. Kalau ini bisa diwujudkan, saya yakin Madura bisa menjadi kekuatan ekonomi baru yang diperhitungkan di Jawa Timur,” pungkasnya.
