machan – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STAI Nasy’atul Muta’allimin (STAINAS) menggelar serangkaian pembekalan bagi mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Ekoteologi Tahun 2026, pada Jumat (7/8/26). Pembekalan tersebut disiapkan agar mahasiswa memiliki bekal konseptual maupun teknis sebelum diterjunkan ke masyarakat.
Ketua LPPM STAINAS sekaligus Ketua Panitia KKN, Aqil Husein Almanuri, mengatakan pembekalan tidak hanya berfokus pada penyusunan program kerja, tetapi juga kemampuan publikasi kegiatan serta penyusunan luaran akademik berupa laporan dan jurnal pengabdian.
“Melalui pembekalan ini kami ingin memastikan mahasiswa tidak sekadar melaksanakan program kerja, tetapi mampu menyusun kegiatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mendokumentasikannya dengan baik, dan mengubah pengalaman pengabdian menjadi karya ilmiah yang bermanfaat,” ujarnya.
Dalam pembekalan penyusunan program kerja, LPPM menghadirkan A. Zainul Hasan, mantan Sekretaris Pengurus Cabang NU Sumenep, bersama para tokoh yang akan menjadi pembimbing lapangan di masing-masing lokasi KKN. Mereka memberikan pendampingan kepada mahasiswa dalam memetakan potensi desa, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, hingga menyusun program yang realistis dan berdampak.
Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan pelatihan pembuatan konten publikasi yang dipandu oleh Yusrotul Hasanah, dosen Tasawuf Psikoterapi STAINAS sekaligus Tim Media Fatayat NU Gapura Timur. Materi tersebut diberikan agar mahasiswa mampu mengemas kegiatan KKN menjadi konten edukatif yang menarik dan mudah diakses masyarakat melalui media digital.
Sementara itu, pembekalan penyusunan laporan akhir KKN dan jurnal pengabdian diberikan langsung oleh Aqil Husein Almanuri. Dalam sesi tersebut mahasiswa dibimbing menyusun laporan yang sistematis sekaligus mengembangkan hasil pengabdian menjadi artikel ilmiah yang layak dipublikasikan.
Salah seorang peserta KKN, Homaedi, mengaku pembekalan tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pelaksanaan KKN di lapangan.
“Materinya sangat membantu. Kami jadi lebih memahami bagaimana menyusun program yang sesuai kebutuhan masyarakat, membuat publikasi yang menarik, hingga menyusun laporan dan jurnal pengabdian. Bekal ini membuat kami lebih siap sebelum terjun ke lokasi KKN,” katanya.
Aqil berharap seluruh rangkaian pembekalan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan KKN Tematik Ekoteologi STAINAS 2026 sehingga kehadiran mahasiswa tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menghasilkan luaran akademik yang berkualitas.
“KKN harus menjadi ruang belajar sekaligus ruang pengabdian. Karena itu kami membekali mahasiswa sejak awal agar setiap program yang dijalankan memiliki dampak nyata, terdokumentasi dengan baik, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” pungkasnya.
