machan – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang digagas BKKBN pada 29 Juni menjadi momentum strategis bagi Pengurus Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Ma’had Aly Al-Karimiyyah. Tak sekadar menggelar seremonial pelantikan periode 2026-2027, ormawa yang beranggotakan mahasantri ini langsung menginisiasi gerakan konkret dengan mengadakan dialog interaktif bertajuk “Manifestasi Sinergi Ormawa Ma’had Aly Al-Karimiyyah: Mengonstruksi Nalar Preventif Pernikahan Dini” di Gedung MA Al-Karimiyyah, Senin (29/6/26).
Dialog yang menghadirkan narasumber utama K. Moh. Faizi, sastrawan muda Madura sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Sawajarin, berlangsung dengan pembahasan yang mendalam. K. Faizi yang kini tengah meneliti problematika kehidupan berkeluarga dan aktif menyampaikan dinamika tersebut melalui podcast di akun TikTok IAA Kota Sumenep, menekankan bahwa pernikahan bukanlah sekadar pemenuhan status formalitas hukum maupun agama semata.
Menurut K. Faizi, institusi rumah tangga menuntut kesiapan yang holistik dan multidimensi dari kedua calon mempelai. Ia mengingatkan bahwa pernikahan dini yang dipaksakan tanpa kesiapan finansial, psikologis, emosional, hingga reproduksi berpotensi memicu konflik domestik yang berujung pada tingginya angka perceraian.
“Ego yang belum matang sangat rentan memicu pertengkaran hebat dalam rumah tangga. Ini bukan sekadar prediksi, melainkan realitas yang sudah terbukti di lapangan,” tegasnya.
K. Faizi juga menantang generasi muda untuk memutus rantai pernikahan dini melalui peningkatan kualitas pendidikan. Menurutnya, nalar kritis yang terasah di bangku kuliah akan membekali pemuda untuk mengambil keputusan visioner bagi masa depan mereka, sekaligus menjadi benteng dari tekanan sosial yang mendorong pernikahan usia muda.
Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari Aliansi BEM Sumenep (BEMSU). Koordinator BEMSU, M. Salman Farid, menyoroti pentingnya peran tokoh agama di tengah masyarakat Madura yang sangat kental dengan budaya paternalistik terhadap ulama dan kiai.
“Di Madura, suara ulama adalah titah yang paling didengar dan ditaati. Karena itu, tokoh agama memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mengedukasi umat. Menjelaskan secara kultural dan teologis bahwa mencegah pernikahan dini adalah bagian dari menjaga kemaslahatan keturunan (hifdzun nasl) merupakan langkah yang sangat efektif. Kolaborasi antara mahasiswa dan tokoh agama menjadi keniscayaan,” ujar Salman.
Sementara itu, Presiden Mahasantri Ma’had Aly Al-Karimiyyah, Ahmad Romdan, menyoroti peran sentral institusi keluarga sebagai benteng pertahanan paling awal. Menurutnya, sebaik apa pun regulasi hukum dan kampanye sosial yang digulirkan, keputusan akhir tetap berada di tangan orang tua.
“Orang tua harus menghentikan pola pikir yang menganggap pernikahan anak di bawah umur sebagai jalan pintas melepas tanggung jawab atau beban ekonomi. Sebaliknya, merekalah yang harus menjadi fasilitator utama dalam mengamankan hak anak untuk menuntaskan pendidikan setinggi-tingginya,” ungkap Romdan.
Puncak dari rangkaian acara ini adalah pembacaan Pernyataan Sikap Menolak Pernikahan Dini Tanpa Kesiapan yang Mapan. Deklarasi kolektif yang diikuti oleh seluruh peserta dialog, termasuk jajaran fungsionaris BEM lintas kampus se-Kabupaten Sumenep dan mahasantri Ma’had Aly Al-Karimiyyah, dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Mahasantri, Moh. Hayat, didampingi barisan ketua BEM di atas podium.
Hayat menegaskan bahwa gerakan ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai agen perubahan. Ia menyoroti realitas tingginya angka perceraian di lapangan yang sudah sangat mengkhawatirkan.
“Membiarkan pernikahan dini tanpa kesiapan terjadi sama saja dengan memaksakan diri membangun istana di atas pasir. Fondasinya rapuh dan tinggal menunggu waktu untuk runtuh. Alih-alih menyelamatkan masa depan, kita justru menanam bom waktu bagi generasi muda yang ekses buruknya akan menghancurkan keberlanjutan pendidikan di Sumenep,” tegasnya diiringi tepuk tangan meriah peserta.
Melalui deklarasi yang bertepatan dengan momen Harganas ini, Ormawa Ma’had Aly Al-Karimiyyah mengirimkan pesan kuat kepada publik: mahasantri tidak hanya kompeten dalam mengkaji teks-teks klasik di pesantren, tetapi juga siap menjadi motor intelektual dalam mengawal ketahanan keluarga dan menyelamatkan masa depan generasi muda di Madura.
