By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Senin, Jul 27, 2026
  • Sumenep
  • Berita Madura
  • Madurachannel.id
  • Berita Madura
  • Sumenep
  • Pamekasan
  • Pemerintah Kabupaten Sumenep
  • GEN Sumenep
Search
Login
Melihat Dunia dari Madura
Support US
Madura Channel
  • Berita Madura
    • Bangkalan
    • Pamekasan
    • Sampang
    • Sumenep
    • Tapal Kuda
  • Luar Madura
    • Internasional
    • Nasional
    • Regional
    • Pendidikan
  • Harta
  • Tahta
  • Wanita
More
  • Cerita Rakyat
  • Gaya Hidup
  • Inspirasi
  • Pekarangan
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Sosbud
  • Wisata
  • Opini
Reading: Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi
Subscribe
Madura Channel
Senin, Jul 27, 2026
  • Berita Madura
  • Luar Madura
  • Harta
  • Tahta
  • Wisata
  • Gaya Hidup
  • Cerita Rakyat
  • Inspirasi
  • Pekarangan
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Sosbud
  • Wanita
  • Opini
Search
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Privacy Policy
  • Hubungi
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Tentang
© 2026 Madurachannel
Opini

Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi

By
Rifqil
6 Min Read
27 Juli 2026
Share
6 Min Read
Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi (Ilustrasi)
Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi (Ilustrasi)
SHARE

Oleh: Achmad Berri Fairozi

machan – Di Tengah gencar-gencaranya promosi Wisata di daerah sumenep ada satu pulau kecil yang luput dari perhatian publik yaitu Masakambing salah satu pulau yang terletak di sebelah utara kepulauan masalembu pulau ini memiliki luas hanya 7,79 kilometer persegi, terletak jauh di Kepulauan Masalembu, di tengah Laut Jawa antara Madura dan Kalimantan, Pulau ini terletak 9 km di utara pulau sekitar 2 jam apabila di tempuh menggunakan perahu dari Pulau Masalembu. Namun dibalik ukurannya yang kecil dan letaknya yang terpencil pulau ini menyimpan kekayaan hayati yang besar, satu pertanyaan yang kemudian timbul dalam kepala saya, “mengapa pulau sekaya ini justru dibiarkan sunyi, ditengah maraknya penggunaan media sosial sekarang ini?

Kekayaan yang Tak Banyak Disorot Kamera

Berdasarkan data dari KEE Masa Kambing pada tahun 2021-2025 tercatat setidaknya setidaknya 26 jenis fauna dan 28 jenis flora hidup di pulau ini, termasuk 22 jenis burung, 11 jenis vegetasi mangrove, dan belasan jenis vegetasi non-mangrove lainnya. Lima di antaranya merupakan satwa dengan status dilindungi.

Bintang Kecil dari pulau ini adalah burung kakatua kecil jambul kuning. Spesies ini berstatus kritis terancam punah menurut Badan Konservasi Dunia (IUCN) dan masuk daftar satwa dilindungi berdasarkan aturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Berdasarkan catatan dari tim Patroli Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur pada April 2026 tersisa 32 ekor di Pulau Masakambing. Ketika satwa seperti ini kehilangan satu-satunya rumah yang tersisa, kita sedang berbicara bukan lagi soal potensi wisata semata, melainkan soal nasib sebuah spesies.

Padahal Pengakuan negara terhadap nilai penting pulau ini sebenarnya sudah ada. Yaitu melalui SK Gubernur Jatim No. 188/166/KTSP/013/2020, ini modal legal-formal yang kuat, jarang dimiliki destinasi ekowisata lain di Sumenep. Di atas kertas, status ini semestinya menjadi jaminan bahwa ekosistem pulau harus dijaga secara serius.

Potensi yang Menanti Sentuhan

Padahal, dari sisi daya tarik wisata, Masakambing sudah punya banyak modal. Pengunjung yang datang bisa menjelajahi rimbunnya hutan mangrove, menikmati kawasan Karang Putih dan Bukit Keramat, atau menyaksikan langsung kakatua jambul kuning terbang bebas di alamnya pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Kekayaan budaya turut melengkapi: penduduk pulau yang merupakan perpaduan suku Bugis dan Madura, deretan rumah panggung khas di sepanjang jalan, hingga tradisi lokal yang masih dijaga turun-temurun.

Masalahnya ada pada aksesibilitas. Untuk mencapai Masakambing, pengunjung harus menempuh perjalanan panjang: naik kapal dari Pelabuhan Kalianget atau Tanjung Perak menuju Pelabuhan Masalembu, lalu masih harus menyewa perahu sekitar dua jam lagi untuk sampai ke pulau. Bandingkan dengan Gili Labak yang bisa dicapai dalam hitungan jam dari daratan Sumenep, atau Mangrove Kedatim yang bahkan bisa diakses dengan kendaraan pribadi dari pusat kota. Jarak yang jauh membuat Masakambing otomatis tersisih dari radar wisatawan, meski nilai ekologisnya jauh lebih tinggi.

Kontras ini semakin terasa jika dibandingkan dengan kisah sukses Ekowisata Mangrove Kedatim di Kecamatan Saronggi. Di sana, inisiatif seorang warga yang resah dengan kerusakan lingkungan berhasil berkembang menjadi destinasi yang dikunjungi ratusan orang setiap hari, mempekerjakan puluhan warga lokal, dan bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Desa. Kuncinya bukan semata soal keindahan alam, melainkan ada pihak yang mau bergerak, berinisiatif, dan didukung secara kelembagaan.

Sunyi Bukan Berarti Tak Berharga

Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Status konservasi formal, sebagus apa pun bunyinya di atas kertas, tidak akan berarti banyak tanpa pengelolaan yang aktif, lintas sektor, dan berkelanjutan. Ekowisata semestinya menjadi jembatan yang menghubungkan dua kepentingan yang selama ini terasa berjarak: memberi nilai ekonomi bagi warga Masakambing, sekaligus menciptakan insentif nyata bagi mereka untuk terus menjaga mangrove dan kakatua jambul kuning tetap lestari. Tanpa itu, konservasi hanya akan menjadi slogan, dan warga tidak akan merasa memiliki alasan kuat untuk mempertahankan kekayaan alam yang mereka tinggali.

Pertanyaan yang lebih besar patut diajukan kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep: dari 126 pulau yang menjadi bagian wilayahnya, berapa banyak “Masakambing-Masakambing lain” yang menyimpan nilai serupa namun luput dari perhatian? Ekowisata Sumenep selama ini terlalu sering diukur dari Nilai Ekonomisnya dan seringkali mengenyampingkan Nilai-Nilai Ekologis dan keberlanjutan, padahal nilai sejati ekowisata terletak pada seberapa serius sebuah daerah menjaga ekosistem yang menjadi napas hidupnya.

Masakambing tidak butuh dipromosikan secara instan sebagai destinasi wisata baru yang ramai dikunjungi. Yang lebih dibutuhkan pulau ini adalah keseriusan kelembagaan kejelasan siapa yang bertanggung jawab, dukungan anggaran yang konsisten, dan kolaborasi nyata antara pemerintah, lembaga konservasi, dan warga setempat. Sebab kesunyian Masakambing seharusnya bukan tanda ia dilupakan, melainkan bukti bahwa ia dijaga dengan sengaja, jauh dari keramaian yang justru bisa merusaknya.

Mahasiswa Prodi biologi Universitas Annuqayah

TAGGED:Madurachannel.idOpiniSumenepUniversitas Annuqayah
Share This Article
Facebook Threads Copy Link
  • Topik Trending:
  • Sumenep
  • Berita Madura
  • Madurachannel.id
  • Berita Madura
  • Sumenep
  • Pamekasan
  • Pemerintah Kabupaten Sumenep
  • GEN Sumenep
  • GEN Jatim
  • Kwarcab Sumenep

Must Read

Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi
27 Juli 2026
Khofifah Buka Koperasi Explore 2026 di Pamekasan, Dorong Koperasi Perkuat Ekonomi Rakyat
22 Juli 2026
PT Bawang Mas Group Pastikan Kesiapan Serap Panen Tembakau Madura, Haji Her Tegaskan Prioritas Kesejahteraan Petani
22 Juli 2026
Selaraskan Visi, PKPT IPNU-IPPNU Universitas PGRI Sumenep Gelar Konsolidasi “Sync Up, Solid Up”
21 Juli 2026
PWI Pamekasan Bedah Krisis Jabatan Definitif OPD, Dorong Reformasi Tata Kelola Birokrasi
17 Juli 2026

Baca Lainnya

Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Manfaatkan Tahun Baru Islam untuk Perbaiki Diri (Ilustrasi)
Berita Madura

Bupati Sumenep Ajak Generasi Muda Manfaatkan Tahun Baru Islam untuk Perbaiki Diri

2 Min Read
“Ini Bukan Lagi Soal Gizi” LKPT PC IPNU Sumenep Bongkar Dugaan Kepentingan di Balik Perluasan MBG (Ilustrasi)
Berita Madura

“Ini Bukan Lagi Soal Gizi” LKPT PC IPNU Sumenep Bongkar Dugaan Kepentingan di Balik Perluasan MBG

3 Min Read
Membangun Paradigma Positif Olahraga Billiard, GEN Billiard Club Ajak Generasi Muda Manfaatkan Wadah yang Tepat (Ilustrasi)
Inspirasi

Membangun Paradigma Positif Olahraga Billiard, GEN Billiard Club Ajak Generasi Muda Manfaatkan Wadah yang Tepat

2 Min Read
Pendidikan Dimulai Sejak Lahir : Saatnya Mengubah Cara Kita Memandang Anak (Ilustrasi)
Sumenep

Pendidikan Dimulai Sejak Lahir : Saatnya Mengubah Cara Kita Memandang Anak

3 Min Read
Mahasiswa KKN UA Hadirkan Layanan Kesehatan Tradisional Gratis untuk Warga Desa Kartagena Tengah (Ilustrasi)
Pamekasan

Mahasiswa KKN UA Hadirkan Layanan Kesehatan Tradisional Gratis untuk Warga Desa Kartagena Tengah

1 Min Read
PAC IPNU Gapura Padukan Rakerancab II dan Camping di Pantai Lombang untuk Perkuat Soliditas Organisasi (Ilustrasi)
Berita Madura

PAC IPNU Gapura Padukan Rakerancab II dan Camping di Pantai Lombang untuk Perkuat Soliditas Organisasi

3 Min Read
Lewat Dialog Interaktif, PK PMII UNIBA Madura Bahas Ancaman Lingkungan dan Tata Kelola Sumenep (Ilustrasi)
Berita Madura

Lewat Dialog Interaktif, PK PMII UNIBA Madura Bahas Ancaman Lingkungan dan Tata Kelola Sumenep

2 Min Read
Jejak Sejarah Keraton Sumenep yang Berpindah-pindah, dan Filosifi Penuh Makna (Ilustrasi)
Sumenep

Jejak Sejarah Keraton Sumenep yang Berpindah-pindah, dan Filosifi Penuh Makna

4 Min Read
Show More
About Us

Madura Channel adalah platform media digital terpercaya yang mengangkat kekayaan budaya, berita, edukasi dan ‘pintu’ seputar Madura

Support

Dukung independensi jurnalisme —dengan dukungan Anda, suara kebenaran dan kebebasan informasi akan terus membahana, menginspirasi dan memberdayakan masyarakat Madura.

Advertise

Iklankan produk atau jasa Anda di sini dan rasakan perbedaan dalam menjangkau pasar yang autentik dan penuh potensi.

Kirim Tulisan

Kirim Tulisan – Suaramu, Ceritamu, Maduramu. Apakah kamu memiliki cerita, opini, atau informasi menarik seputar budaya, sejarah, dan kehidupan di Madura yang layak untuk disebarkan? Kirim ke Redaksi

Madura Channel
  • Privacy Policy
  • Hubungi
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Tentang
Subscribe Newsletter
  • Daily Stories
  • Stock Arlets
  • Full Acess
Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?