machan – Suasana Aula Lantai 2 SMK Al-Karimiyyah Sumenep tampak khidmat pada Kamis pagi. Puluhan wajah baru dengan seragam putih abu-abu duduk rapi menyimak setiap pesan yang disampaikan dari panggung. Bukan sekadar seremoni pengenalan lingkungan sekolah, kegiatan ini menjadi momen penanaman nilai fundamental bagi generasi muda: komitmen bersama melawan perundungan atau bullying.
Bekerja sama dengan Satuan Binmas (SATBIMNAS) Polres Sumenep, sekolah kejuruan yang beralamat di jantung kota Kabupaten Sumenep ini menyelenggarakan sosialisasi Anti Bullying sebagai bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk membentengi peserta didik baru dari segala bentuk kekerasan dan perlakuan tidak menyenangkan yang masih kerap menghantui dunia pendidikan (16/7/26).
Kepala SMK Al-Karimiyyah, Fendi Susanto, S.Pd.I, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kegiatan yang dinilainya sangat krusial ini. Ia menegaskan bahwa upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman merupakan prasyarat mutlak bagi pencapaian visi besar sekolah.
“SMK Al-Karimiyyah memiliki tiga poros utama yang kami usung, yakni Industri, Literasi Global, dan Religius, dengan semboyan ‘Siap Kerja, Siap Kuliah, dan Siap Berwirausaha.’ Namun, ketiganya tidak akan mungkin terwujud jika ruang belajar tidak aman dan nyaman. Karena itu, sosialisasi anti bullying ini menjadi fondasi awal. Ketika murid merasa terlindungi, motivasi belajar mereka akan meningkat, prestasi akademik pun berkembang, dan karakter positif turut terbentuk secara alami,” ujar Fendi Susanto dengan nada optimistis.
Materi inti sosialisasi disampaikan secara lugas oleh AIPTU Nur Yusup dari Satbinmas Polres Sumenep. Di hadapan para pelajar, ia memaparkan secara mendalam tentang dampak buruk perundungan—baik secara fisik, verbal, maupun psikologis—serta konsekuensi hukum yang mengintai pelaku. Lebih dari sekadar teori, ia mengajak seluruh siswa untuk membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, dan yang tak kalah penting, berani bersuara serta melaporkan apabila menjumpai indikasi perundungan di lingkungan sekolah.
Penyampaian materi semakin interaktif dengan kehadiran dua narasumber pendamping, Yusron Al-Ayadi, S.Kom., dan Nita Yuliana Putri, S.Kom. Untuk memastikan pesan anti perundungan tidak hanya masuk ke telinga, melainkan juga meresap ke dalam kesadaran, para peserta diajak menuangkan pemahamannya dalam proyek kreatif bertema menggambar poster. Kegiatan ini menjadi sarana kampanye positif yang efektif, sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap upaya penciptaan budaya sekolah yang ramah dan inklusif.
Salah satu peserta, Nurul Qomariyah, mengaku mendapatkan pencerahan baru dari sesi yang berlangsung selama beberapa jam tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan membuka matanya terhadap realitas bahwa perundungan bukanlah hal sepele dan dapat terjadi di mana saja.
“Kegiatan ini sangat penting bagi kami. Di era sekarang, masih banyak kasus perundungan yang terjadi di kalangan remaja, bahkan sering dianggap candaan. Saya jadi paham bahwa menghargai teman, tidak menyakiti, dan berani menjadi pelopor lingkungan yang aman adalah tanggung jawab kita bersama. Semoga sekolah kami ke depan benar-benar bebas dari bullying,” tutur Nurul dengan penuh semangat.
Melalui gelaran ini, SMK Al-Karimiyah berharap dapat menanamkan komitmen kolektif bagi seluruh warga sekolah baik pendidik, tenaga kependidikan, hingga peserta didik baru untuk bersama-sama membangun iklim pendidikan yang menjunjung tinggi rasa hormat, kepedulian sosial, dan kebebasan dari segala bentuk perundungan, sebagai wujud nyata pendidikan yang memanusiakan manusia.
