machan – Antusiasme masyarakat Madura menyambut kedatangan Presiden RI ternyata masih menyisakan catatan penting di Kabupaten Sumenep. Di tengah hiruk-pikuk agenda kenegaraan, warga justru dihadapkan pada persoalan mendasar: sulitnya mendapatkan BBM subsidi jenis Pertalite (24/6/26). Antrean kendaraan yang mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjadi pemandangan yang kontras dengan semarak kunjungan presiden.
Presiden Mahasiswa Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura, Moh. Iskil El Fatih, menyatakan bahwa pemerintah pusat seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga merespons secara serius kesulitan yang dialami rakyat kecil di daerah kepulauan tersebut.
“Kami mengapresiasi segala upaya pembangunan yang tengah digalakkan. Namun, kami juga ingin mengingatkan bahwa ketika warga harus berjam-jam menunggu hanya untuk mengisi tangki kendaraan, maka itu adalah sinyal darurat yang tidak boleh diabaikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Iskil menilai bahwa krisis BBM subsidi bukan hanya sekadar mengganggu mobilitas, melainkan juga menghambat roda ekonomi, akses pendidikan, hingga aktivitas harian masyarakat. Karena itu, ia mendesak pemerintah pusat, melalui kementerian teknis dan Pertamina, untuk segera menormalisasi pasokan BBM di wilayah tersebut.
“Keberadaan negara tidak cukup diukur dari megahnya proyek infrastruktur. Rakyat harus merasakan kehadiran negara dalam pemenuhan hajat hidup sehari-hari, termasuk kemudahan memperoleh energi dengan harga terjangkau,” ujarnya.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM UNIBA Madura juga menyerukan agar pemerintah melakukan evaluasi tata kelola distribusi BBM secara komprehensif, khususnya di Sumenep, guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
“Kami berharap kunjungan presiden kali ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi pintu masuk bagi solusi nyata atas persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat Madura,” pungkasnya.
