Oleh: Ach. Hambali || Pengurus GEN Pamekasan || Mahasiswa IAI Al-Khairat Pamekasan
Opini – Dalam era pasca-kolonial, bentuk penjajahan tak lagi datang dengan kapal perang atau tentara berpakaian seragam. Ia menyamar sebagai pesta mewah, investasi asing, dan janji kemakmuran yang manis. Inilah esensi yang ditangkap brilian oleh film dokumenter Pesta Babi, karya D. Laksono, Cypri Paju Dale, dan tim Ekspedisi Indonesia Baru. Melalui lensa investigasi yang tajam, film ini mengupas praktik ritual penyembelihan babi massal di pulau-pulau terpencil Papua, bukan sekadar sebagai tradisi adat, melainkan metafora halus dari eksploitasi modern yang menjajah rakyat kecil atas nama “perkembangan”.
Bayangkan sebuah pesta di mana ratusan babi disembelih untuk menyambut tamu penting bukan untuk kesejahteraan masyarakat, tapi untuk memuluskan proyek tambang raksasa milik korporasi asing. Pesta Babi merekam realitas ini dengan gamblang, ritual adat yang seolah memberi legitimasi budaya pada penggusuran lahan adat, pencemaran lingkungan, dan hilangnya hak hidup masyarakat Papua. Ini adalah penjajahan gaya baru “kolonialisme ekonomi” yang dibungkus narasi investasi berkelanjutan dan pemberdayaan lokal. Seperti pesta babi itu sendiri, yang boros dan destruktif, proyek-proyek ekstraktif ini menghabiskan sumber daya alam demi keuntungan segelintir elite, meninggalkan masyarakat lokal dengan tulang-belulang kemiskinan dan degradasi ekologis.
Apa yang membuat film ini menggigit adalah pendekatan naratifnya yang tak biasa. Bukan sekadar jurnalisme investigatif, Pesta Babi memadukan footage mentah ekspedisi lapangan dengan wawancara korban dan pelaku, menciptakan rasa urgensi yang memaksa penonton bertanya: “Siapa sebenarnya tuan pesta di sini?”. Metafora “pesta babi” sempurna menggambarkan absurditasnya, tradisi suci yang dipelintir menjadi alat hegemoni, mirip bagaimana neoliberalisme global kini menjajah negara berkembang melalui utang, konsesi tambang, dan greenwashing. Di Indonesia, ini bukan cerita asing, ingat kasus Freeport atau proyek infrastruktur yang mengorbankan hutan adat.
Namun, kekuatan terbesar Pesta Babi adalah panggilannya untuk aksi. Film ini bukan hanya mengkritik, tapi juga memberdayakan suara rakyat Papua yang selama ini dibungkam. Di zaman modern di mana algoritma media sosial mendominasi narasi, karya seperti ini mengingatkan kita bahwa penjajahan baru bisa dilawan dengan kesadaran kolektif dan solidaritas lintas budaya. Pesta Babi bukan akhir pesta, tapi undangan untuk membongkar meja perjamuan yang tak adil ini. Sudah saatnya kita tolak “pesta” semacam itu demi Indonesia yang berdaulat, bukan budak investasi asing.
