By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Senin, Okt 26, 2026
  • Sumenep
  • Berita Madura
  • Madurachannel.id
  • Berita Madura
  • Sumenep
  • Pamekasan
  • Nasional
  • Pemerintah Kabupaten Sumenep
Search
Login
Melihat Dunia dari Madura
Support US
Madura Channel
  • Berita Madura
    • Bangkalan
    • Pamekasan
    • Sampang
    • Sumenep
    • Tapal Kuda
  • Luar Madura
    • Internasional
    • Nasional
    • Regional
    • Pendidikan
  • Harta
  • Tahta
  • Wanita
More
  • Cerita Rakyat
  • Gaya Hidup
  • Inspirasi
  • Pekarangan
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Sosbud
  • Wisata
  • Opini
Reading: Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi
Subscribe
Madura Channel
Senin, Okt 26, 2026
  • Berita Madura
  • Luar Madura
  • Harta
  • Tahta
  • Wisata
  • Gaya Hidup
  • Cerita Rakyat
  • Inspirasi
  • Pekarangan
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Sosbud
  • Wanita
  • Opini
Search
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Privacy Policy
  • Hubungi
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Tentang
© 2026 Madurachannel
Opini

Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi

By
Rifqil
6 Min Read
27 Juli 2026
Share
6 Min Read
Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi (Ilustrasi)
Masakambing, Ekowisata yang Tenggelam dalam Sunyi (Ilustrasi)
SHARE

Oleh: Achmad Berri Fairozi*

machan – Di Tengah gencar-gencaranya promosi Wisata di daerah sumenep ada satu pulau kecil yang luput dari perhatian publik yaitu Masakambing salah satu pulau yang terletak di sebelah utara kepulauan masalembu pulau ini memiliki luas hanya 7,79 kilometer persegi, terletak jauh di Kepulauan Masalembu, di tengah Laut Jawa antara Madura dan Kalimantan, Pulau ini terletak 9 km di utara pulau sekitar 2 jam apabila di tempuh menggunakan perahu dari Pulau Masalembu. Namun dibalik ukurannya yang kecil dan letaknya yang terpencil pulau ini menyimpan kekayaan hayati yang besar, satu pertanyaan yang kemudian timbul dalam kepala saya, “mengapa pulau sekaya ini justru dibiarkan sunyi, ditengah maraknya penggunaan media sosial sekarang ini?

Kekayaan yang Tak Banyak Disorot Kamera

Berdasarkan data dari KEE Masa Kambing pada tahun 2021-2025 tercatat setidaknya setidaknya 26 jenis fauna dan 28 jenis flora hidup di pulau ini, termasuk 22 jenis burung, 11 jenis vegetasi mangrove, dan belasan jenis vegetasi non-mangrove lainnya. Lima di antaranya merupakan satwa dengan status dilindungi.

Bintang Kecil dari pulau ini adalah burung kakatua kecil jambul kuning. Spesies ini berstatus kritis terancam punah menurut Badan Konservasi Dunia (IUCN) dan masuk daftar satwa dilindungi berdasarkan aturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Berdasarkan catatan dari tim Patroli Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur pada April 2026 tersisa 32 ekor di Pulau Masakambing. Ketika satwa seperti ini kehilangan satu-satunya rumah yang tersisa, kita sedang berbicara bukan lagi soal potensi wisata semata, melainkan soal nasib sebuah spesies.

Padahal Pengakuan negara terhadap nilai penting pulau ini sebenarnya sudah ada. Yaitu melalui SK Gubernur Jatim No. 188/166/KTSP/013/2020, ini modal legal-formal yang kuat, jarang dimiliki destinasi ekowisata lain di Sumenep. Di atas kertas, status ini semestinya menjadi jaminan bahwa ekosistem pulau harus dijaga secara serius.

Potensi yang Menanti Sentuhan

Padahal, dari sisi daya tarik wisata, Masakambing sudah punya banyak modal. Pengunjung yang datang bisa menjelajahi rimbunnya hutan mangrove, menikmati kawasan Karang Putih dan Bukit Keramat, atau menyaksikan langsung kakatua jambul kuning terbang bebas di alamnya pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Kekayaan budaya turut melengkapi: penduduk pulau yang merupakan perpaduan suku Bugis dan Madura, deretan rumah panggung khas di sepanjang jalan, hingga tradisi lokal yang masih dijaga turun-temurun.

Masalahnya ada pada aksesibilitas. Untuk mencapai Masakambing, pengunjung harus menempuh perjalanan panjang: naik kapal dari Pelabuhan Kalianget atau Tanjung Perak menuju Pelabuhan Masalembu, lalu masih harus menyewa perahu sekitar dua jam lagi untuk sampai ke pulau. Bandingkan dengan Gili Labak yang bisa dicapai dalam hitungan jam dari daratan Sumenep, atau Mangrove Kedatim yang bahkan bisa diakses dengan kendaraan pribadi dari pusat kota. Jarak yang jauh membuat Masakambing otomatis tersisih dari radar wisatawan, meski nilai ekologisnya jauh lebih tinggi.

Kontras ini semakin terasa jika dibandingkan dengan kisah sukses Ekowisata Mangrove Kedatim di Kecamatan Saronggi. Di sana, inisiatif seorang warga yang resah dengan kerusakan lingkungan berhasil berkembang menjadi destinasi yang dikunjungi ratusan orang setiap hari, mempekerjakan puluhan warga lokal, dan bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Desa. Kuncinya bukan semata soal keindahan alam, melainkan ada pihak yang mau bergerak, berinisiatif, dan didukung secara kelembagaan.

Sunyi Bukan Berarti Tak Berharga

Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Status konservasi formal, sebagus apa pun bunyinya di atas kertas, tidak akan berarti banyak tanpa pengelolaan yang aktif, lintas sektor, dan berkelanjutan. Ekowisata semestinya menjadi jembatan yang menghubungkan dua kepentingan yang selama ini terasa berjarak: memberi nilai ekonomi bagi warga Masakambing, sekaligus menciptakan insentif nyata bagi mereka untuk terus menjaga mangrove dan kakatua jambul kuning tetap lestari. Tanpa itu, konservasi hanya akan menjadi slogan, dan warga tidak akan merasa memiliki alasan kuat untuk mempertahankan kekayaan alam yang mereka tinggali.

Pertanyaan yang lebih besar patut diajukan kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep: dari 126 pulau yang menjadi bagian wilayahnya, berapa banyak “Masakambing-Masakambing lain” yang menyimpan nilai serupa namun luput dari perhatian? Ekowisata Sumenep selama ini terlalu sering diukur dari Nilai Ekonomisnya dan seringkali mengenyampingkan Nilai-Nilai Ekologis dan keberlanjutan, padahal nilai sejati ekowisata terletak pada seberapa serius sebuah daerah menjaga ekosistem yang menjadi napas hidupnya.

Masakambing tidak butuh dipromosikan secara instan sebagai destinasi wisata baru yang ramai dikunjungi. Yang lebih dibutuhkan pulau ini adalah keseriusan kelembagaan kejelasan siapa yang bertanggung jawab, dukungan anggaran yang konsisten, dan kolaborasi nyata antara pemerintah, lembaga konservasi, dan warga setempat. Sebab kesunyian Masakambing seharusnya bukan tanda ia dilupakan, melainkan bukti bahwa ia dijaga dengan sengaja, jauh dari keramaian yang justru bisa merusaknya.

*Mahasiswa Prodi biologi Universitas Annuqayah

TAGGED:Madurachannel.idOpiniSumenepUniversitas Annuqayah
Share This Article
Facebook Threads Copy Link
  • Topik Trending:
  • Sumenep
  • Berita Madura
  • Madurachannel.id
  • Berita Madura
  • Sumenep
  • Pamekasan
  • Nasional
  • Pemerintah Kabupaten Sumenep
  • GEN Jatim
  • Kwarcab Sumenep

Must Read

Hari Santri Nasional ke-12 di Yayasan Al-In’am: Kolaborasi Seluruh Gerakan.
22 Oktober 2026
Puncak Dies Natalis ke-18 INKADHA dan Hari Santri 2026 Ditutup dengan Majelis Sholawat dan Tausiyah KH Busyro Karim
22 Oktober 2026
PKPT IPNU IPPNU UPI Sumenep Jalin Kerja Sama dengan English Studio Centre Pare, Hadirkan Ruang Belajar Bahasa Inggris bagi Mahasiswa
18 Oktober 2026
BEM Nusantara Dukung Slogan “Polisi Bersama Masyarakat” sebagai Penguat Sinergi Polri-Rakyat
16 Oktober 2026
Polisi Bangkalan Selidiki Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Kakek terhadap Cucu hingga Melahirkan
12 Oktober 2026

Baca Lainnya

Wujud Kedekatan dengan Masyarakat, BANSER Gapura Salurkan Puluhan Paket Sembako (Ilustrasi)
Berita Madura

Wujud Kedekatan dengan Masyarakat, BANSER Gapura Salurkan Puluhan Paket Sembako

1 Min Read
BEM KM Uniba Madura Gelar Reksa Musicverse 2026, Hadirkan Artis Nasional hingga Internasional (Ilustrasi)
Berita Madura

BEM KM UNIBA Madura Gelar Reksa Musicverse 2026, Hadirkan Artis Nasional hingga Internasional

3 Min Read
Pramuka MAN Sumenep Gelar Penempuhan Bantara, Bentuk Generasi Tangguh Berkarakter (Ilustrasi)
Berita Madura

Pramuka MAN Sumenep Gelar Penempuhan Bantara, Bentuk Generasi Tangguh Berkarakter

1 Min Read
EduFest Situbondo Dinilai Terbaik di Indonesia, GESIT Hasilkan 6.000 Konten Pembelajaran (Ilustrasi)
Berita Madura

EduFest Situbondo Dinilai Terbaik di Indonesia, GESIT Hasilkan 6.000 Konten Pembelajaran

4 Min Read
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Ayah Kandung di Sumenep, IPPNU UPI Desak Pendampingan dan Keadilan bagi Korban (Ilustrasi)
Berita Madura

Bukan Urusan Keluarga! IPPNU UPI Sumenep Minta Aparat Serius Tangani Kasus Rubaru

2 Min Read
Customer Service via Chatbot: Efektifkah Komunikasi Tanpa Emosi? (Ilustrasi)
Opini

Customer Service via Chatbot: Efektifkah Komunikasi Tanpa Emosi?

3 Min Read
BSPS di desa Errabu Sumenep = Bantuan Saudara Pejabat Setempat (Ilustrasi)
Sumenep

BSPS di desa Errabu Sumenep = Bantuan Saudara Pemerintah Setempat

3 Min Read
Belajar Kalah: Sebab hidup memang banyak kalahnya (Ilustrasi)
Opini

Belajar Kalah: Sebab hidup memang banyak kalahnya

4 Min Read
Show More
About Us

Madura Channel adalah platform media digital terpercaya yang mengangkat kekayaan budaya, berita, edukasi dan ‘pintu’ seputar Madura

Support

Dukung independensi jurnalisme —dengan dukungan Anda, suara kebenaran dan kebebasan informasi akan terus membahana, menginspirasi dan memberdayakan masyarakat Madura.

Advertise

Iklankan produk atau jasa Anda di sini dan rasakan perbedaan dalam menjangkau pasar yang autentik dan penuh potensi.

Kirim Tulisan

Kirim Tulisan – Suaramu, Ceritamu, Maduramu. Apakah kamu memiliki cerita, opini, atau informasi menarik seputar budaya, sejarah, dan kehidupan di Madura yang layak untuk disebarkan? Kirim ke Redaksi

Madura Channel
  • Privacy Policy
  • Hubungi
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Tentang
Subscribe Newsletter
  • Daily Stories
  • Stock Arlets
  • Full Acess
Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?