machan – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan apresiasi tinggi terhadap transformasi pendidikan berbasis digital di Kabupaten Situbondo. Inovasi tersebut dinilai tidak sekadar mengandalkan teknologi, tetapi mampu menghubungkan ekosistem pendidikan di sekolah, keluarga, masyarakat, dan ruang digital.
Apresiasi itu disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Nonformal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, saat menghadiri EduFest di GOR Situbondo, Sabtu (19/9/26). Gogot bahkan menyebut EduFest Situbondo sebagai salah satu kegiatan pendidikan terbaik yang pernah ia kunjungi di Indonesia.
“Ini salah satu yang paling terbaik di Indonesia yang saya pernah datangi. Karena ini memadukan antara empat hal, yang pertama adalah pendidikan di sekolah, yang kedua adalah pendidikan di keluarga, yang ketiga pendidikan di masyarakat, dan yang keempat adalah pendidikan di media digital,” ujar Gogot.
Menurut Gogot, kekuatan utama program pendidikan di Situbondo terletak pada keterhubungan empat ekosistem tersebut. Pendidikan tidak berhenti ketika siswa meninggalkan ruang kelas, tetapi berlanjut di rumah, lingkungan masyarakat, hingga melalui media digital.
Konsep tersebut diwujudkan melalui Gerakan Mandiri Anak Situbondo (GEMAS) dan Gerakan Aktif Ber-PID (GESIT). GEMAS diarahkan untuk memperkuat aktivitas positif anak di lingkungan keluarga, sedangkan GESIT menjadi instrumen untuk mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.
“Di sekolah belajar, di rumah tadi GEMAS, di masyarakat juga melalui kegiatan-kegiatan yang lain, dan di medianya sudah disiapkan dengan media digital melalui gerakan GESIT. Jadi empat-empatnya sudah terpenuhi,” katanya.
Salah satu capaian yang mendapat perhatian khusus adalah produksi konten pembelajaran melalui program GESIT. Kemendikdasmen mencatat, program tersebut telah menghasilkan lebih dari 6.000 konten pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar mengajar.
Gogot menegaskan, digitalisasi pendidikan tidak boleh dimaknai sebatas pembagian perangkat teknologi kepada sekolah. Menurutnya, keberadaan perangkat harus diikuti dengan ketersediaan konten yang berkualitas serta peningkatan kemampuan guru dalam menggunakannya.
“Digitalisasi pembelajaran tidak hanya perangkat, tapi juga penyediaan kontennya dan pelatihannya. Situbondo telah memecah rekor melalui program GESIT membuat konten lebih dari 6.000. Ini luar biasa,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi dukungan Pemkab Situbondo, termasuk jajaran Dinas Pendidikan, yang dinilai telah mendorong pemanfaatan teknologi digital agar benar-benar masuk ke dalam proses pembelajaran.
Dalam kesempatan tersebut, Gogot juga menyinggung distribusi papan interaktif digital atau perangkat pembelajaran digital ke sejumlah sekolah. Namun, pemanfaatannya untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diberikan dengan pertimbangan khusus.
Menurut Gogot, perangkat digital untuk PAUD tidak diarahkan kepada anak-anak dengan usia terlalu dini. Pemanfaatannya diprioritaskan untuk peserta didik sekitar usia 5–6 tahun dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan konsentrasi anak.
“Kita tidak mendorong untuk yang terlalu kecil karena berisiko nanti mengganggu konsentrasi. Ini hanya untuk yang minimal 5–6 tahun,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan harus tetap menempatkan kebutuhan dan perkembangan anak sebagai pertimbangan utama.
Tak hanya memberikan apresiasi terhadap inovasi digital, Kemendikdasmen juga membawa agenda besar bagi dunia pendidikan Situbondo. Pemerintah berencana membangun Sekolah Nasional Terintegrasi di Kabupaten Situbondo sebagai bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2026.
Untuk merealisasikan program tersebut, Pemkab Situbondo diharapkan dapat menyiapkan lahan sekitar 20 hektare. Gogot berharap dukungan pemerintah daerah dapat mempercepat persiapan pembangunan sekolah tersebut.
“Kami sudah sampaikan ke Pak Bupati, semoga ada lahan 20 hektare yang bisa disiapkan. Tahun depan akan kita bangun sekolah yang terbaik di Kabupaten Situbondo yang tidak kalah dengan sekolah-sekolah internasional di seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Apresiasi Kemendikdasmen tersebut sekaligus menempatkan Situbondo sebagai salah satu daerah yang tengah mendorong perubahan pola pendidikan melalui pendekatan yang menggabungkan teknologi, keluarga, masyarakat, dan sekolah. Dengan capaian lebih dari 6.000 konten pembelajaran, tantangan berikutnya bukan sekadar memperbanyak produk digital, tetapi memastikan seluruh konten benar-benar digunakan guru dan siswa serta memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.
