Oleh : Hordani*
machan – Peran Korps Putri PMII (KOPRI) dalam ekosistem Pergerakan Mahasiswa Islam tidak bisa hanya dimaknai sebagai bagian administratif atau simbol representasi perempuan. Terdapat tantangan mendasar yang perlu dijawab: bagaimana KOPRI tidak hanya menjadi pelaksana agenda, tetapi juga sebagai pusat produksi pengetahuan yang mandiri dan transformatif. Tanpa fondasi epistemik yang kuat, gerakan berisiko terjebak dalam mengadopsi kerangka berpikir dari sistem yang justru hendak dikritisi, sehingga memperkuat logika yang ingin diubah.
Situasi ini menunjukkan suatu paradoks. Di satu sisi, KOPRI bergerak menyuarakan kesetaraan dan keadilan gender, namun di sisi lain, kapasitasnya dalam membangun narasi, teori, dan metodologi yang berasal dari refleksi pengalaman spesifik anggotanya masih sering terbatas. Keterbatasan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan persoalan politis yang menyangkut posisi dan otonomi gerakan. Ketika pengetahuan lebih banyak bersifat adopsi tanpa proses kritis yang mendalam, maka yang terjadi adalah reproduksi ketergantungan. KOPRI berpotensi menjadi “penerjemah” wacana dari pusat-pusat diskursus dominan, alih-alih menjadi “pencipta” wacana yang lahir dari pergulatan nilai Aswaja, konteks kultural Indonesia, dan realitas perempuan yang nyata.
Analisis kritis terhadap kondisi ini mengungkap beberapa lapisan masalah:
1. Hegemoni Epistemik: Terdapat kecenderungan isu perempuan ditempatkan sebagai “sub-bahasan” dalam kerangka besar gerakan, bukan sebagai perspektif yang mengubah cara melihat semua persoalan. Akibatnya, pengetahuan yang dihasilkan sering bersifat reaktif dan tambal sulam, bukan sistematis dan visioner.
2. Rendahnya Infrastruktur Pengetahuan: Kebutuhan akan ruang diskusi yang aman, pendokumentasian pengalaman kader, serta penguatan kapasitas riset dan penulisan kritis sering kali belum menjadi prioritas struktural.
3. Kesenjangan antara Teori dan Praksis: Banyak analisis yang dihasilkan berhenti pada level wacana, tanpa dirancang menjadi modul pendidikan, strategi advokasi, atau panduan aksi yang konkret dan terukur.
Sebagai jalan keluar yang solutif, diperlukan upaya sistematis untuk membangun Kemandirian Epistemik KOPRI. Langkah-langkah strategis yang dapat dipertimbangkan meliputi:
· Mendirikan Laboratorium Wacana dan Aksi: Membentuk kelompok studi permanen yang tidak hanya mendiskusikan teori feminis global, tetapi juga melakukan refleksi kritis atas tradisi, teks keagamaan, dan realitas sosial Indonesia untuk merumuskan kerangka keadilan gender yang kontekstual.
· Mengembangkan Metodologi Khas KOPRI: Merancang pendekatan riset partisipatoris yang berpusat pada pengalaman anggota dan komunitas basis, sehingga pengetahuan yang lahir bersifat emansipatoris dan membumi.
· Memperkuat Sirkulasi Pengetahuan Internal: Membuat kanal publikasi (jurnal internal, buletin, podcast) yang secara regular mempublikasikan hasil pemikiran, refleksi, dan kajian kader KOPRI, membangun bank gagasan sendiri.
· Membuat Agenda Transformasi Berbasis Pengetahuan: Setiap analisis yang dihasilkan harus diikuti dengan rekomendasi aksi yang jelas, baik untuk perubahan internal di tubuh PMII (seperti review AD/ART, kurikulum kaderisasi, mekanisme pengambilan keputusan) maupun untuk agenda eksternal gerakan.
· Membangun Jaringan Pengetahuan dengan Lembaga Otonom: Berjejaring dengan pesantren putri, komunitas perempuan adat, akademisi, dan organisasi perempuan lainnya untuk bertukar pengalaman dan memperkaya perspektif, tanpa kehilangan identitas keaswajaannya.
Dengan mengonsolidasikan kemandirian epistemik, KOPRI akan mengalami transformasi peran: dari objek wacana menjadi subjek pencipta wacana, dari pelaksana menjadi perancang strategi, dan dari penerima mandat menjadi mitra penuh yang setara. Kapasitas menghasilkan pengetahuan yang reflektif, kontekstual, dan solutif inilah yang akan menjadi ukuran kedewasaan dan kontribusi historis KOPRI. Pada akhirnya, keadilan gender tidak cukup hanya diperjuangkan melalui protes dan permintaan; ia harus dibangun melalui karya intelektual yang rigor, berani, dan membebaskan. Hanya dengan menjadi pusat pemikiran yang otonom, KOPRI dapat benar-benar merebut kendali atas narasi perjuangannya sendiri dan mengarahkan masa depan yang lebih adil bagi semua.
*Ketua KOPRI STIT Aqidah Usymuni
