machan – Mengisi momentum malam takbiran dengan cara yang tidak biasa, Generasi Emas Nusantara (GEN) Malang Raya menggelar kegiatan bertajuk “Takbiran: Diskusi Publik & Nobar Film Pesta Babi”. Acara yang memadukan refleksi spiritual dan kritis guna membedah isu lingkungan dan hak masyarakat adat pada Selasa malam di Coffee Niskala Kota Malang (26/5/2026)
Ketua GEN Malang Raya, Dandi Indrawanto, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan ruang sebagai simbol “mengagungkan keadilan” dan merayakan kemenangan melawan ketidak berpihakan pada kaum yang tertindas.
“Kami ingin memanfaatkan momentum di malam takbiran ini untuk merefleksikan kembali kondisi saudara-saudara kita di Papua. Film Pesta Babi memberi kita potret nyata bagaimana lingkungan dan hak-hak adat dikorbankan demi Proyek Strategi Nasional,”ujarnya.
Dandi menekankan bahwa kegiatan nobar dan diskusi publik ini adalah murni bagamaina kita membaca representasi kekuasaan yang terjadi di Papua kita tidak pernah tau apa yang mereka rasakan dengan banyaknya aparat negara membuat mereka nyaman atau ketakutan.
Dosen Hukum Tata Negara (Universitas Brawijya) Malang Dr. Dhia Al Uyun,. S.H., M.H mempertanyakan kondisi masyarakat pribumi ketika di rampas tanahnya dan aparat mulai mengambil peran-peran masyarakat, termasuk di bidang pertanian.
“Kalau aparat ikut menanam padi, lalu petani mau kerja apa?” ujarnya.?”
Dhia menyoroti polemik yang terjadi di media sosial ketika salah satu pemeran pada film tersebut merasa dimanfaatkan dan tidak mengetahui bahwa pernyataannya akan dijadikan bagian dari film dokumenter.
“kita tidak pernah benar-benar tau apa yang dirasakan mama sinta dan kalau orang sudah tidak bisa melawan menggunakan narasi dan tidak mampu menjawab substansi, yang diserang akhirnya subjeknya.,” ucapnya.
Di forum yang sama, Ketua Asosiasi Jawa Timur 2024-2028, Ahmad Sulaiman, yang biasa dipanggil (Mada) menyebut film ini sangat menarik untuk melihat kondisi saat ini.
“ film mengajak kita untuk lebih peka terhadap kondisi saat ini,” ujar . Mada
Mada juga menyampaikan bahwa apresiasi terhadap film ini sebuah produk seni Yang bagus dan juga produksi advokasi
“kit aini jangan berfikir bahwa untuk mengadvokasi tidak hanya tulisan kemudian harus berbusa -busa demo, menurut say aini bentuk kreatif bagai mana kita mengadvokasi dengan sebuah tontonan,” ungkapnya.
