By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Jumat, Mar 27, 2026
  • Sumenep
  • Berita Madura
  • Pamekasan
  • Berita Madura
  • Kwarcab Sumenep
  • Sumenep
  • Pemerintah Kabupaten Sumenep
  • Inspirasi
Search
Login
Melihat Dunia dari Madura
Support US
Madura Channel
  • Berita Madura
    • Bangkalan
    • Pamekasan
    • Sampang
    • Sumenep
    • Tapal Kuda
  • Luar Madura
    • Internasional
    • Nasional
    • Regional
    • Pendidikan
  • Harta
  • Tahta
  • Wanita
More
  • Cerita Rakyat
  • Gaya Hidup
  • Inspirasi
  • Pekarangan
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Sosbud
  • Wisata
  • Opini
Reading: Tengka Sebagai Legitimasi Religius: Dari Etika ke Kontrol Sosial
Subscribe
Madura Channel
Jumat, Mar 27, 2026
  • Berita Madura
  • Luar Madura
  • Harta
  • Tahta
  • Wisata
  • Gaya Hidup
  • Cerita Rakyat
  • Inspirasi
  • Pekarangan
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Sosbud
  • Wanita
  • Opini
Search
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Privacy Policy
  • Hubungi
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Tentang
© 2026 Madurachannel
Sumenep

Tengka Sebagai Legitimasi Religius: Dari Etika ke Kontrol Sosial

By
fathorrosy
5 Min Read
5 Agustus 2025
Share
5 Min Read
Tengka Sebagai Legitimasi Religius: Dari Etika ke Kontrol Sosial (Ilustrasi)
Penulis
SHARE

Oleh: Syauqan Wafiqi*

machan – Apa yang mesti dilakukan sebuah masyarakat ketika bahasa sopan santun yang diwariskan turun-temurun justru berubah menjadi pagar tinggi yang membungkam kritik? Atau dengan kata lain: bagaimana tengka yang dulu mengajarkan kehalusan budi berubah menjadi mekanisme kontrol sosial yang justru menutup pintu koreksi, apalagi kebenaran?

Pertanyaan itu, dalam konteks Madura hari ini, menemukan relevansinya yang mengganggu. Di satu sisi, masyarakat Madura memelihara tengka dan religiositas sebagai dua poros penting dalam kehidupan sosial. Di sisi lain, justru dari keduanya terkadang muncul struktur yang tak lagi membimbing, tetapi mengatur; bukan lagi mendidik, melainkan menertibkan. Yang tadinya menjadi etika bersama kini menjadi alat kuasa yang sakral dan tak tersentuh.

Masalahnya bukan pada tengka. Tengka adalah nilai yang mengajarkan kesantunan dalam relasi. Tapi ketika tengka dipadukan dengan religiositas yang menempel pada status sosial, ia bukan lagi bahasa nilai, melainkan simbol legitimasi. Maka, muncul pengandaian-pengandaian baru: bahwa mereka yang berada dalam garis keturunan tertentu, atau mengenakan simbol religius tertentu, tidak boleh dikoreksi. Dan ketika koreksi datang dari luar lingkar simbolik itu, ia dibaca bukan sebagai pengingat moral, melainkan cangkolang kurang ajar, tak tahu adat.

Padahal tengka mestinya menjadi jalan untuk menghargai sesama, bukan untuk membungkam sesama. Ketika anak muda memilih cara berpikir berbeda, ketika masyarakat mempertanyakan keputusan tokoh lokal, ketika kebenaran menuntut ruang bicara tengka sering dijadikan tameng: “tidak sopan”, “melawan”, “tidak tahu diri”. Di titik ini, tengka kehilangan esensinya sebagai etika, dan berubah menjadi protokol kekuasaan.

Religiositas ikut memperkuat perubahan ini. Bukan karena agama mengajarkan begitu, tetapi karena agama dalam struktur sosial kita terlalu mudah dikunci dalam simbol: sorban, gelar, warisan. Orang-orang yang menyandang simbol itu mendapat posisi yang sulit disentuh oleh kritik. Maka ketika seorang tokoh agama menggunakan pengaruh sosial untuk menyerobot tanah warga, masyarakat lebih memilih diam, atau bahkan berkata: “Pasti ada alasannya.” Dalam diam itu, kita melihat bagaimana nilai dijaga bukan demi keadilan, melainkan demi rasa aman.

Wajah lain dari persoalan ini kadang tampak pada sebagian pada lora-lora, bhindere, putra-putra kiai yang secara sosial dianggap sebagai pewaris spiritual dan moral. Namun ketika sebagian dari mereka melakukan tindakan yang terang melanggar norma, masyarakat justru melapisinya dengan diksi yang memaafkan: “helap.” Seolah kesalahan mereka berbeda karena berasal dari darah yang “berbeda”. Seolah moralitas bisa diwariskan, bukan diperjuangkan.

Helap, dalam konteks ini, bukan lagi khilaf yang mengandung pertobatan. Ia berubah menjadi mekanisme sosial untuk melindungi mereka yang berkedudukan tinggi dari pertanggungjawaban moral. Maka, tengka yang semula dimaksudkan untuk menahan lidah agar tidak gegabah, kini menahan kebenaran agar tidak mengganggu tatanan.

Padahal zaman menuntut perubahan. Struktur sosial tidak lagi homogen. Pengetahuan tidak lagi bertumpu pada silsilah, tapi pada verifikasi. Dan di tengah perubahan itu, masyarakat Madura dihadapkan pada dilema: menjaga tengka dan religiositas sebagai nilai luhur, atau mengoreksi penggunaannya yang kini justru membekukan kritik dan menyamarkan penyimpangan.

Kita tidak sedang mengajak untuk memberontak terhadap nilai-nilai lama. Sebaliknya, kita sedang berusaha menyelamatkan tengka dari pembusukan maknanya. Tengka tidak seharusnya digunakan untuk membela yang salah hanya karena ia kiai, atau karena ia anak kiai. Religiusitas tidak seharusnya menjadi pembungkus keburukan yang tidak boleh dibuka. Karena ketika itu terjadi, tengka dan agama kehilangan wajah etisnya. Yang tersisa hanyalah estetika sosial yang melindungi kekuasaan, bukan nilai. Yang mengkhawatirkan bukanlah bahwa masyarakat menjadi tidak sopan. Yang mengkhawatirkan adalah ketika sopan santun didefinisikan sedemikian rupa sehingga menyebut yang salah dianggap lebih buruk daripada melakukan yang salah.

Maka tidak heran jika kita kerap mendengar komentar seperti ini: “Yang penting sopan.” Tapi apakah sopan itu tetap bernilai jika ia justru digunakan untuk menertibkan kebenaran? Apakah diam itu masih disebut tengka ketika yang diam adalah mereka yang tahu apa yang benar, tapi tidak punya status untuk mengatakannya?

Tulisan ini tidak datang untuk menjatuhkan simbol. Tapi simbol tanpa isi tidak akan bertahan lama. Tengka harus kembali ke tempat asalnya: sebagai nilai yang memperhalus, bukan menajamkan batas; sebagai etika yang membentuk dialog, bukan membatasi ucapan. Religiusitas pun harus kembali ke akarnya: bukan pada siapa yang memakai simbolnya, tapi pada siapa yang hidup menurut nilai-nilainya.

Sebab dalam masyarakat yang sehat, hormat tak menuntut kebungkaman, dan sopan santun tidak bertentangan dengan keberanian menyebut yang salah. Di situlah tengka akan menemukan kembali wajahnya yang utuh: bukan sebagai pagar kekuasaan, tetapi sebagai jembatan etika. Dan religiositas akan menjadi cahaya yang memandu, bukan payung yang membutakan.

*Aktivis dan Pegiat Literasi Digital Sumenep

TAGGED:ReligiositasSyauqan WafiqiTengka Madura
Share This Article
Facebook Threads Copy Link
  • Topik Trending:
  • Sumenep
  • Berita Madura
  • Pamekasan
  • Berita Madura
  • Kwarcab Sumenep
  • Sumenep
  • Pemerintah Kabupaten Sumenep
  • Inspirasi
  • Nasional
  • GEN Sumenep

Must Read

IKA UNAIR Sumenep Santuni Penyandang Tuna Netra dan Gelar Buka Bersama
18 Maret 2026
Peduli Sesama, GEN Bangkalan Bantu Warga Kurang Mampu di Kecamatan Tanah Merah
18 Maret 2026
Sukses! Pemkab Sumenep Fasilitasi Mudik Gratis dengan KMP DBS III PT Sumekar
18 Maret 2026
Wujud Kedekatan dengan Masyarakat, BANSER Gapura Salurkan Puluhan Paket Sembako
16 Maret 2026
MAB Group dan Haswal Group Lebarkan Sayap, Hadirkan Istana Perabot Serba 2000 di Bluto
16 Maret 2026

Baca Lainnya

Janda Tunawisma di depan Balai Desa Gapura Timur Kini Dibuatkan Kamar Mandi oleh Warga (Ilustrasi)
Sumenep

Janda Tunawisma di depan Balai Desa Gapura Timur Kini Dibuatkan Kamar Mandi oleh Warga

2 Min Read
Mahasiswa KKN Wiraraja Hijaukan Pesisir Kangayan dengan Tanam Mangrove (Ilustrasi)
Sumenep

Mahasiswa KKN Wiraraja Hijaukan Pesisir Kangayan dengan Tanam Mangrove

1 Min Read
Sambut Hari Kartini, GEN Ganding dan Jembhar Sataretanan Gelar Workshop Gandeng OSIS se Kec. Ganding (Ilustrasi)
Sumenep

Sambut Hari Kartini, GEN Ganding dan Jembhar Sataretanan Gelar Workshop Gandeng OSIS se Kec. Ganding

2 Min Read
Wujud Kepedulian Insan Pers, Intregrity News Santuni Anak Yatim (Ilustrasi)
Berita Madura

Wujud Kepedulian Insan Pers, Intregrity News Santuni Anak Yatim

2 Min Read
Pra PBAK INKADHA 2025: Perkenalan Panitia, Sosialisasi Ormawa, dan Pembentukan Kelompok (Ilustrasi)
Sumenep

Pra PBAK INKADHA 2025: Perkenalan Panitia, Sosialisasi Ormawa, dan Pembentukan Kelompok

2 Min Read
Sumenep Cari Bibit Unggul, GEN Probert Tournament Antar Pelajar-Mahasiswa Sukses Digelar (Ilustrasi)
Sumenep

Sumenep Cari Bibit Unggul, GEN Probert Tournament Antar Pelajar-Mahasiswa Sukses Digelar

2 Min Read
Dukung UMKM Gula Aren di Desa Lapa Laok, Mahasiswa KKN STKIP Siap Bantu Pemasaran (Ilustrasi)
Sumenep

Dukung UMKM Gula Aren di Desa Lapa Laok, Mahasiswa KKN STKIP Siap Bantu Pemasaran

1 Min Read
Kecelakaan Maut di Sumenep: Dua Pengendara Motor Tewas Setelah Tabrakan dengan Mobil Innova (Ilustrasi)
Sumenep

Kecelakaan Maut di Sumenep: Dua Pengendara Motor Tewas Setelah Tabrakan dengan Mobil Innova

1 Min Read
Show More
About Us

Madura Channel adalah platform media digital terpercaya yang mengangkat kekayaan budaya, berita, edukasi dan ‘pintu’ seputar Madura

Support

Dukung independensi jurnalisme —dengan dukungan Anda, suara kebenaran dan kebebasan informasi akan terus membahana, menginspirasi dan memberdayakan masyarakat Madura.

Advertise

Iklankan produk atau jasa Anda di sini dan rasakan perbedaan dalam menjangkau pasar yang autentik dan penuh potensi.

Kirim Tulisan

Kirim Tulisan – Suaramu, Ceritamu, Maduramu. Apakah kamu memiliki cerita, opini, atau informasi menarik seputar budaya, sejarah, dan kehidupan di Madura yang layak untuk disebarkan? Kirim ke Redaksi

Madura Channel
  • Privacy Policy
  • Hubungi
  • Pedoman
  • Redaksi
  • Tentang
Subscribe Newsletter
  • Daily Stories
  • Stock Arlets
  • Full Acess
Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?