Oleh: Salam Supriyadi, M.Pd*
machan – Gagasan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, untuk mengenalkan coding dan kecerdasan buatan sejak dini patut diapresiasi. Langkah ini adalah bekal penting bagi generasi muda menyongsong era digital. Meski bagi sebagian guru dan siswa, kata “coding” terdengar rumit, esensinya justru dapat dimulai dengan hal sederhana.
Coding, dalam pemahaman Burhanuddin (2023), adalah proses menulis kode untuk berkomunikasi dengan komputer. Di tingkat Sekolah Dasar (SD), kita tidak perlu membebani siswa dengan kode-kode kompleks. Fokusnya adalah pada penanaman kecerdasan logika, penalaran, dan kemampuan mengidentifikasi pola. Konsep inilah yang menjadi fondasi pengenalan coding yang menyenangkan.
Sebagai pendidik, saya merasa terdorong untuk menerapkan ilmu pedagogi yang saya miliki. Di SDIT Al-Wathoniyah Sumenep, saya mulai dengan mempelajari literasi, menyusun modul ajar berbasis coding, dan menguji coba penerapannya. Media yang digunakan pun sederhana, seperti lembar kerja “Encode Passwords with Lines” yang melatih logika dan pemecahan masalah melalui pola dan warna.
Yang menarik, semangat belajar siswa justru semakin membara ketika kami memanfaatkan TV Merah Putih yang disalurkan pemerintah. Antusiasme mereka membuktikan bahwa teknologi ini bukan sekadar pajangan, tetapi pintu gerbang menuju pembelajaran yang interaktif dan kreatif.
Komitmen pemerintah dalam mendigitalisasi pendidikan semakin nyata dengan program TV Merah Putih. Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya, “Tahun ini kita harapkan 330 ribu sekolah akan dapat. November 10, laporan yang saya terima, sudah 100 ribu sekolah akan dapat. Sekarang baru 10 ribu,” ujarnya. Program ini akan berlanjut hingga 2026 dengan target setiap sekolah mendapatkan tiga unit smart TV, dan idealnya satu kelas memiliki satu layar.
Inisiatif ini, menurut Prabowo, adalah strategi untuk mengejar ketertinggalan pendidikan nasional. “Untuk membantu daerah-daerah terluar, terpencil, juga daerah-daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, yang guru-gurunya kurang. Atau gurunya juga mungkin penatarannya agak terbatas,” tuturnya. TV Merah Putih menjadi solusi untuk pembelajaran jarak jauh dan pengayaan materi.
Pernyataan ini sejalan dengan visi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, yang menyatakan bahwa program “TV Merah Putih” adalah bagian dari digitalisasi pendidikan untuk mewujudkan pengalaman belajar yang lebih modern dan interaktif. Perangkat ini dapat mendukung pembelajaran melalui presentasi, video, dan sumber belajar digital lainnya, sekaligus meningkatkan literasi dan keterampilan abad ke-21.
Pengalaman saya membuktikan, TV Merah Putih bisa menjadi media yang powerful untuk mengenalkan coding. Ia mampu “menghidupkan” konsep abstrak menjadi visual yang menarik. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh guru, khususnya para guru muda di Sumenep, untuk memanfaatkan bantuan ini secara maksimal. Mari berperan aktif, berinovasi, dan terus meng-update metode pembelajaran kita. Dengan semangat kolaborasi, kita bisa membawa siswa-siswa kita melompat lebih jauh ke masa depan, langsung dari ruang kelas mereka.
*Guru SDIT Al-Wathoniyah Sumenep
