machan — Unit Kegiatan Mahasiswa Pengembangan Intelektual (UKM PI) Institut Kariman Wirayudha (INKADHA) Sumenep menyelenggarakan pelatihan kepenulisan bertajuk Inkadha Opinion Academy di Gedung INKADHA Blok B. L.II, Kamis (3/9/26). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-18 INKADHA.
Mengusung tema “Intelektual Muda Berpena Tajam: Menghidupkan Kembali Budaya Literasi Kritis yang Konstruktif”, pelatihan ini, Acara diawali dengan prosesi ceremonial pembukaan yang dihadiri jajaran pimpinan dan panitia penyelenggara.
Ketua Panitia Inkadha Opinion Academy, Abd. Sofa, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan menulis opini secara terarah.
“Kegiatan ini kami inisiasi sebagai upaya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar menyusun opini yang tidak hanya tajam, tetapi juga tetap berpijak pada data dan etika akademik,” ujar Abd. Sofa.
Senada dengan itu, Ketua Panitia Dies Natalis INKADHA ke-18, Moh. Nurul Fauzi, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu agenda utama dalam rangkaian perayaan dies natalis. Ia berharap kegiatan tersebut mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi budaya literasi kampus.
“Kami ingin Dies Natalis ke-18 ini bukan sekadar menjadi perayaan seremonial, tetapi juga momentum melahirkan intelektual muda yang mampu menuangkan gagasan secara konstruktif melalui tulisan,” tutur Moh. Nurul Fauzi.
Ketua Umum UKM PI, Candra Firnanda Ahmad Tufaili, menekankan pentingnya wadah pelatihan kepenulisan bagi mahasiswa. Menurutnya, kemampuan menulis opini merupakan kompetensi yang perlu terus diasah agar mahasiswa mampu berkontribusi dalam diskursus publik.
“Melalui Inkadha Opinion Academy ini, kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya aktif dalam kegiatan akademik formal, tetapi juga berani menyampaikan gagasan kritis melalui karya tulis yang berbobot,” kata Candra Firnanda Ahmad Tufaili.
Dosen INKADHA, Fawaid Zaini, M.Pd., turut hadir memberikan sambutan dan motivasi kepada para peserta. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam membudayakan literasi di lingkungan kampus.
“Saya berharap kegiatan ini menjadi titik awal bagi mahasiswa untuk terus konsisten menulis. Budaya literasi tidak lahir secara instan, melainkan melalui pembiasaan yang berkelanjutan,” ujar Fawaid Zaini.
Usai sesi seremoni, kegiatan dilanjutkan secara interaktif dengan pemaparan materi dari Amin Bashiri. Dalam sesi tersebut, Amin membekali peserta mengenai teknik dan langkah praktis menyusun artikel opini yang tajam, terstruktur, serta berbobot untuk media massa.
Melalui kegiatan pelatihan ini, panitia berharap mahasiswa INKADHA tidak hanya aktif dalam kegiatan akademik formal, tetapi juga mampu menuangkan gagasan-gagasan kritis secara konstruktif demi merawat tradisi literasi di kampus.
